Rabu, 18 Januari 2012

FATWA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH TENTANG KEHARUSAN MEMBUNUH PENDETA



Beliau ditanya tentang para rahib (pendeta) yang terlibat urusan duniawi dengan manusia. Mereka berniaga, bercocok tanam…serta perkara-perkara lainnya  yang dilakukan oleh manusia yanga ada pada mereka saat ini. …

 Jawaban :

Alhamdulillah, para rahib (pendeta) yang dipertentangankan oleh para ulama’ perihal membunuh mereka dan mengambil jizyah dari mereka adalah mereka yang tersebut dalam hadits  yang diriwayatkan dari Kholifah Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Ash Shiddiq Rodhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Yazid bin Abi Sofyan  tatkala mengutusnya sebagai Amir dalam penaklukan Syam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan kepadanya : “Dan engkau akan dapati beberapa kaum yang telah mengucilkan diri mereka di biara-biara, maka biarkanlah mereka…dan akan engkau dapati pula beberapa kaum yang membelah dari tengah kepala mereka, maka pancunglah mereka dengan pedang”. Hal itu sebab  Allah Ta’ala berfirman : “Maka perangilah pemimpin-pemimpin kekafiran. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya agar mereka berhenti” (QS At Taubah :  )
Akan tetapi DILARANGnya membunuh mereka, sebab mereka adalah kaum yang telah MEMUTUSKAN DIRI DARI MANUSIA, MEMENJARAKAN DIRI MEREKA DI BIARA-BIARA. Seorang mereka disebut Habiis (orang yang memenjara diri). Mereka sama sekali tidak menyokong pemeluk agamanya dalam perkara yang menimbulkan madhorot atas kaum muslimin dan tidak pula membaur dengan dunia mereka. Akan tetapi salah seorang mereka mencukupkan diri dengan bekalan hidup ala kadarnya. Maka para ulama’ berselisih perihal membunuh mereka sebagaimana perselisihan mereka perihal membunuh orang yang tidak dapat membahayakan kaum muslimin baik dengan tangan maupun lisannya, seperti orang buta, sakit menahun, lanjut usia dan semisalnya seperti wanita dan anak-anak.
Jumhur menyatakan : TIDAK BOLEH dibunuh kecuali yang termasuk menyokong mereka dalam perang secara umum. Kalau tidak (termasuk yang menyokong, pent-) berarti seperti wanita dan anak-anak. Diantara ulama ada yang menyatakan : bahkan sekedar kekufuran sudah membolehkan untuk dibunuh. Adapun dikecualikannya wanita dan anak-anak hanyalah lantaran mereka sebagai harta. Berdasar ini terbangun perkara pengambilan jizyah.
Adapun rahib yang menyokong pemeluk agamanya dengan tangan dan lisannya seperti ia punya ide yang mereka jadikan rujukan dalam perang, atau semacam provokator maka orang ini diBUNUH menurut kesepakatan ULAMA jika dapat dikuasai, dan diambil Jizyah darinya sekalipun dia mengucilkan diri di tempat ibadahnya. Lantas bagaimana halnya dengan mereka (PARA PENDETA) yang telah SAMA DENGAN ORANG ORANG NASHARA UMUMNYA DALAM CARA HIDUP, MEMBAUR DENGAN MANUSIA, MENGUMPULKAN KEKAYAAN DENGAN PERNIAGAAN, COCOK TANAM, PRODUKSI, MENGAMBIL BIARAWATI UNTUK BERHUBUNGAN DENGAN ORANG LAIN. Para rahib/pendeta itu punya perbedaan dengan selain mereka lantaran kekufuran mereka yang lebih keras yang menjadikan mereka sebagai AIMMATUL KUFRI (pemimpin-pemimpin kekufuran) seperti melakukan ritual ibadah dengan barang-barang najis, meninggalkan nikah, daging dan pakaian yang itu merupakan syiar kafir. Apalagi merekalah yang menegakkan agama Nasrani dengan tipu daya-tipu daya bathil mereka yang dibuat kitab-kitab karangan dengan ritual-ritual peribadatan rusak, menerima nadzar dan wakaf mereka.
Rahib menurut mereka syaratnya hanyalah meninggalkan NIKAH. Meskipun demikian ini orang orang Nashrani membolehkan mereka (rahib) untuk menjadi Pastor, pendeta, dan bentuk pemimpin pemimpin kekufuran lainnya yang dapat menyodorkan perintah dan larangan. Mereka juga berhak mencari kekayaan sebagaimana orang Nashrani lain seperti itu. Maka pendeta pendeta itu TIDAK DIPERSELISIHKAN oleh para Ulama bahwa merekalah kalangan Nashrani yang LEBIH DAHULU BERHAK UNTUK DIBUNUH ketika berlaku hukum Harby. Dan diambil Jizyah ketika ia menyerahkan diri (kepada Daulah Islamiyah). Mereka termasuk dari jenis DEDENGKOT dedengkot kafir yang dinyatakan oleh Abu Bakar As-Shidiq Radhiyallahu ‘anhu dengan menyertir Firman Allah ta’ala: “ Maka perangilah dedengkot dedengkot kafir”. Hal itu lebih dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firmanNya : “Sesungguhnya kebanyakan dari orang alim dan rahib rahib memakan harta manusia dengan cara bathil dan MENGHALANGI DARI JALAN ALLAH”. Allah Ta’ala berfirman : “Mereka mengambil orang orang alim dan rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah dan juga Masih bin Maryam.  Mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah satu Ilah. Tidak ada Ilah berhak disembah selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan”.
Maka adakah seorang Ulama yang berkata : “Sesungguhnya Dedengkot dedengkot kafir yang menghalangi kalangan awamnya dari Jalan Allah, memakan harta manusia dengan cara Bathil dan rela dijadikan tuhan selain Allah bahwa mereka tidak boleh dibunuh dan tidak boleh diambil Jizyah dari mereka. Padahal Jizyah tersebut diambil dari kalangan awam yang relatif lebih sedikit bahayanya terhadap Diin dibanding mereka dan relatif lebih sedikit hartanya”. PERKATAAN INI TIDAK MUNGKIN DILONTARKAN OLEH  ORANG YANG MASIH SADAR APA YANG DIKATAKANNYA.
Hanyasanya memang terjadi Syubhat disebabkan keumuman dan maksud ganda pada lafal “rahib”. Dan telah kami jelaskan bahwa atsar yang tersebut statusnya MUQAYYAD (terikat dengan syarat) lagi terkhususkan. Yang itu menjelaskan hukum marfu’ padanya. Para Ulama bersepakat bahwa alasan larangan (membunuh rahib) adalah sebagaimana yang kami jelaskan.

Diterjemahkan dari : MAJMU’ FATAWA JUZ XXVIII/659-662


Kamis, 12 Januari 2012


1.topik:kebudayaan dan agama dalam keraton

2.fokus: nilai-nilai agama dan kebudayan jawa dalam dalam keraton kasunan surakarta

3.masalah:
  • latar belakang keraton kasunan surakarta.
  • pengamalan agama dalam kebudayaan keraton.
  • pandangan islam terhadap kebudayaan yang ada dalam keraton.
4. tujuan:
  • menjelaskan agama dan budaya yang ada dalam keraton kasunan surakarta
  • Mendriskripsikan berbagai bentuk dan tata cara pelaksanan agama dan budaya dalam keraton
  • Menjelaskan pengaruh nilai-nilai agama dalam keraton

5. MANFAAT PENELITIAN :
1. Manfaat Teoritis
Temuan hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dan kajian lebih mendalam tentang agama dan Budaya yang dilestarikan dalam kehidupan masyarakat jawa serta menemukan pesan moral yang terkandung didalamnya
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber yang signifikan dalam memperoleh informasi dan rekomendasi baik bagi lembaga masyarakat maupun bagi pemerintah dalam mengambil sebuah kebijakan-kebijakan.

6.Tinjauan pustaka:
Dari pengamatan peneliti mengenai agama dan budaya sebagai berikut.
Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan, yaitu, keduanya adalah sitem nilai dan sistem
simbol dan keduanya mudah sekali terancam setiap kali ada perubahan. Agama, dalam perspektif ilmu-ilmu sosial adalah sebuah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai konstruksi realitas, yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan tata sosial serta memahamkan dan menafsirkan dunia sekitar. Sementara seni tradisi merupakan ekspresi cipta, karya, dan karsa manusia (dalam masyarakat tertentu) yang berisi nilai-nilai dan pesan-pesan religiusitas, wawasan filosofis dan kearifan lokal (local wisdom).

Oleh karena itu, biasanya terjadi dialektika antara agama dan kebudayaan tersebut. Agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberi kekayaan terhadap agama. Namum terkadang dialektika antara agama dan seni tradisi atau budaya lokal ini berubah menjadi ketegangan. Karena seni tradisi, budaya lokal, atau adat istiadat sering dianggap tidak sejalan dengan agama sebagai ajaran Ilahiyat yang bersifat absolut.(http://pemikiranislam.wordpress.com)

7. LANDASAN TEORI
Kebudayaan cenderung diikuti oleh masyarakat pendukungnya secara turun-temurun dari generasi ke generasi berikutnya, meskipun sering terjadi anggota masyarakat itu datang silih berganti disebabkan munculnya bermacam-macam faktor, seperti sekatenan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis, yaitu pendekatan yang menggunakan nilai-nilai yang mendasari perilaku tokoh sejarah, status dan gaya hidup, sistem kepercayaan yang mendasari pola hidup dan sebagainya. Dengan pendekatan ini, penulis mencoba memaparkan situasi dan kondisi masyarakat yang meliputi kondisi sosial budaya dan kondisi keagamaannya. Antropologi memberi bahan prehistoris sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah. Kecuali itu, konsep-konsep tentang kehidupan masyarakat dikembangkan oleh antropologi, akan memberi pengertian untuk mengisi latar belakang dari peristiwa sejarah yang menjadi pokok penelitian. Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.
Teori adalah kreasi intelektual, penjelasan beberapa fakta yang telah diteliti dan diambil prinsip umumnya. Dalam Poerwadarminta, teori adalah asas-asas dan hukum-hukum umum yang menjadi dasar sesuatu kesenian atau ilmu pengetahuan. ( www.Yasin- Achmad.blogspot.com)
8. Sumber data :
    peneliti akan mencari data dari dokumen dan masaratan kerato kasunan surakarta.
Jenis penelitian ini berupa penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang prosedurnya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang diamati”. (Robert Begdan dan Steven J yang dikutip Lexy Moelong, 1995:3)

9. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode yang akan digunakan dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Metode Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada penelitian. (Handari Nawawi, 1990:100).
b. Metode Interview atau wawancara
wawancara dilakukan dengan bertatap muka dan mendengarkan secara langsung informasi-informasi dan keterangan-keterangan. Penulis akan melakukan tanya jawab secara langsung kepada abdi dalem.

10. ANALISIS DATA
Analisis data menurt Lexy. J. Moelong adalah “Proses mengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam suatu pola, kategori dan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disaran untuk menganalisis data”.(Lexy J. Moelong, 1995: 112). Untuk menganalisis yang terkumpul penulis akan menggunakan analisis deskriptif kualitif. Artinya, data yang muncuk berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati yaitu melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang diproses melalui pencatatan dan lain-lain yang kemudian disusun dalam teks yang diperluas. (Miles, M.B, and AM. Huberman, 1992:15).
Data yang diperoleh akan dianalisis secara berurutan dan interaksionis yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi. (Miles, MB., And AM. Huberman, 1992:16).
Pertama, setelah pengumpulan data selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah reduksi data yaitu menggolongkan , mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilah-pilah. Kedua, data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Ketiga, penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua dengan mengambil kesimpulan.
Metode berfikir yang akan penulis gunakan untuk menganalisa penelitian ini adalah metode penelitian Induktif dan Deduktif. Metode deduktif adalah suatu penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan yang bersifat khusus menuju pada pernyataan yang sifatnya umum (Arikunto, 1992: 159). Sedangkan metode Induktif yaitu suatu penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan umum menuju pada pernyataan yang sifatnya khusus” (Sutrisno Hadi, 1993: 97).(www.Yasin- Achmad.blogspot.com)
10. DAFTAR PUSTAKA
-Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa ( Jakarta: Balai Pustaka, 1984 ), hlm. 322.
-A. Syahri, Implementasi Agama Islam Pada Masyarakat ( Jakarta: Depag, 1985), hlm. 2.
-Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa (Yogyakarta: Hanindita 2001), hlm. 1.
-Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi Dalam Masyarakat Jawa, Terj. Aswab Mahasin (Jakarta: Pustaka Jawa, 1983), hlm. 8.
-Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Pendekatan Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 4.
-Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1990), hlm. 35-36 & 44
-Abudin Nata, Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 35.
-W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), hlm. 1054.
-Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah: Dasar Metode dan Tehnik (Bandung: Tarsito, 1980), hlm. 123 & 135
-( www.Yasin- Achmad.blogspot.com)









Rabu, 04 Januari 2012

SEKATENAN ALA JAWA



                                                                    
SEKATEN
(Syahadatain)

Perayaan Sekaten yang dilaksanakan setiap tahun di Karaton Surakarta adalah wujud Mikul Dhuwur Mendhem Jero dari Karaton terhadap perjuangan Wali Songo yang telah berhasil menyebarkan tuntunan nabi Muhammad SAW. Untuk kepentingan dakwah, oleh para wali di Demak, kelahiran Nabi tersebut diperingati selama seminggu, dari tanggal 5-15 Rabbingulawal. Peringatan yang lazim dinamai Maulud Nabi itu, oleh para wali disebut Sekaten, yang berasal dari kata Syahadatain (dua kalimat Syahadat, yakni persaksian manusia muslim bahwa Tida Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah).

TUNTUNAN

Sekaten diadakan sebagai penghormatan terhadap lahirnya tuntunan bagi manusia, yang perlu terus-menerus didengungkan ke pelosok masyarakat sampai kapanpun juga. Masyarakat yang datang ke Sekaten tidak lain hanya ingin mendapatkan pencerahan (berkah) dari tuntunan yang telah terbukti membawa manusia hidup dalam kebahagiaan lahir dan batin.

Semangat perayaan Sekaten tak lain sebuah peringatan kepada manusia untuk dapat hormat-menghormati satu sama lain, dapat mengakui ide-ide orang lain, bisa mengakui kesalahan dengan Legawa dan menerima kemenangan dengan syukur dan takwa serta tidak takabur.

Sebenarnya, orang-orang yang mendatangi Sekaten pada dasarnya adalah mereka yang mau diatur oleh tuntunan, Ngrungkebi Budi Suci dan menghambakan diri kepada Tuhan YME, menuju manusia sejati sebagaimana yang diharapkan para wali.

TONTONAN
Nyatalah bahwa perayaan Sekaten diperuntukkan bagi mereka yang menghendaki tuntunan; hal yang memang dikehendaki oleh para Wali Songo. Kejelian, kecerdasan, dan kedekatan para Wali pada masyarakatnya, membuat mereka sepakat untuk mengemas dakwahnya dengan menampilkan tontonan yang menghadirkan gamelan pusaka peninggalan dinasti Majapahit yang telah dibawa ke Demak.

Di Karaton Surakarta tradisi menabuh gamelan itu masih tetap dilaksanakan di Bangsal Pagongan, Mesjid Agung Karaton Surakarta. Yang harus disimak dari Gendhing-gendhing Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari adalah makna yang ada di dalamnya. Setidaknya ada 2 (dua) kebenaran yang hendak disampaikan. Pertama adalah Syahadat Taukhid, yakin pada adanya Allah SWT, dilambangkan dalam gendhing ‘Rembu’, berasal dari kata Robbunayang yang artinya Allah Tuhanku yang dikumandangkan dari gamelan Kyai Guntur Madu.

Perkara kedua adalah Syahadat Rosul dari Gamelan Kyai Guntur Sari, yakni berkumandangnya Gendhing ‘Rangkung’, berasal dari kata Roukhun yang artinya Jiwa Besar atau Jiwa Yang Agung. Semuatidakhanysebagaitontonanatauhiburanbelaka.

Perkembangan jaman dan semangat baru yang hendak diemban oleh Karaton Surakarta menuntut kelegawaan dan kejembaran pikiran untuk melaksanakannya. Sebagai salah satu dari keragaman konstelasi tradisi Karaton, Sekaten-pun harus Nut Jaman Kelakone. Artinya, baik sebagai Tuntunan maupun sebagai Tontonan, keduanya harus tetap berdasarkan pada tujuan semula diadakannya perayaan Sekaten. Jangan sampai kepercayaan masyarakat yang telah mengakar dikaburkan oleh penonjolan unsur tontonannya. Kita tidak boleh semena-mena dan nggampangke masalah.

Jika hendak menge-tengahkan keragaman dan keunikan etnis berikut eksotismenya dengan menampilkan berbagai atraksi dan seni budaya daerah, selayaknya ditampilkan seminggu sebelum dan sesudah hari-H perayaan. Sedangkan seminggu sebelum hingga hari-H perayaan, benar-benar merupakan rasa syukur atas tuntunan yang telah dibawa Nabi Muhammad.

Spiritnya harus dijaga, perimbangan dan proporsi keduanya (Tuntunan dan Tontonan) harus terjaga. Nut Ing Jaman Kalakone tak sama dan tak sebangun juga tak searti dengan Kentir Ing Banjir Bandhang Kali Jaman.

                                                         
ACARA SEKATEN Masyarakat Yogyakarta dan daerah sekitarnya masih percaya bahwa perayaan Sekaten, khususnya pada saat diiringi gamelan, akan mendatangkan berkah dari Tuhan untuk pekerjaan, kesehatan dan masa depan mereka. Pada hari pertama perayaan Sekaten diawali pada tengah malam dengan sebuah prosesi abdi dalem yang berjalan dalam dua baris dengan membawa dua set gamelan, yang bernama Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Prosesi ini meninggalkan bangsal Ponconiti dengan dikawal oleh pengawal oleh prajurit Kraton menuju Masjis Agung. Di masjid Agung, kyai Nogowilogo diletakkan di Pagongan Selatan. Kedua set gamelan ini dimainkan secara stimulan sampai tanggal 11 bulan Maulud, saat kedua gamelan tersebut dibawa kembali ke Kraton pada tengah malam. Penting untuk diketahui bahwa beberapa hari sebelum dan selama Sekaten diadakan pasar malam di alun-alun utara. Puncak dari perayaan Sekaten adalah Garebeg Maulud yang diadakan pada tanggal 12 bulan Maulud. Festival ini dimulai pada pukul 07.30 pagi, diawali oleh parade prajurit Kraton, yang terdiri dari sepuluh unit yang berama : Wirobrojo, Daeng, Patangpuluh, Jogokaryo, Prawirotomo, Nyutro, Ketanggung, Mantrijero, Surokarso dan Bugis yang mengenakan seragam kebesaran mereka. Parade dimulai di halaman utara Kemandungan dan Kraton, menyeberangi Sitihinggil dan menuju ke Pagelaran di alun-alun utara. Pada pukul 10.00, Gunungan meninggalkan Kraton dengan didahului oleh pasukan Bugis dan Surokarso. Gunungan terdiri dari makanan seperti sayuran, kacang-kacangan, cabai merah, telur, beberapa makanan berbahan dasar, yang disusun membentuk gunung yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan Mataram. Saat parade menyeberangi alun-alun utara, mereka akan disambut oleh tembakan salvo dan sorkan prajurit Kraton yang telah menunggu. Prosesi tersebut disebut Garebeg. Kata Garebeg berasal dari bahasa Jawa 'Brebeg" atau "Gumerebeg" yang berarti suara ribut yang ditimbulkan oleh sorakan penonton. Gunungan kemudian akan dibawa menuju Masjid Agung dimana setelah gunungan itu diberkahi, orang-orang akan berebutan mengambil bagian-bagian dari Gunungan tersebut, karena percaya bahwa gunungan itu merupakan benda suci, sehingga bagian-bagiannya pun dipercaya mempunyai kekuatan supranatural. Para petani sering menanam bagian dari gunungan tersebut di sawah dengan harapan akan dijauhkan dari bencana atau nasib sial. Menurut penanggalan Jawa, ada perayaan lain selain Garebeg Maulud, yang desebut Garebeg Syawal. Perayaan tersebut diadakan setelah bulan Ramadhan. Garebeg Syawal diadakan pada hari pertama bulan Syawal (bulan Jawa). Garebeg Besar diadakan pada hari ke-10 bulan Jawa, yang dihubungkan dengan hari raya umat Muslim (Qurban, Idhul Adha). SEKILAS SEKATEN Pada tahun 1939 Caka atau 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali membangun Masjid Demak. Selanjutnya berdasar hasil musyawarah para wali, digelarlah kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah Sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Sekaten terus berkembang dan diadakan secara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam. Demikian pula pada saat bergesernya Kerajaan Islam ke Mataram serta ketika Kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta) Sekaten tetap digelar secara rutin tiap tahun sebagai warisan budaya Islam. Di Kasultana Ngayogyakarta, perayaan sekaten yang terus berkembang dari tahun ke tahun pada dasarnya terdapat tiga pokok inti yang antara lain: 1. Dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang. 2. Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat. 3. Pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai upacara puncak sekaten.

                                                                        
Warisan Kerajaan Demak Itu Tersimpan di Keraton Kasepuhan GAMELAN SEKATEN DI CIREBON DITABUH DUA TAHUN SEKALI GAMELAN Sekaten yang disimpan di Museum Keraton Kasepuhan, pada 1 Syawal dipindahkan di bangunan Sri Tinggil. Gamelan yang berlaras madenda yang dimainkan sembilan penayaga ditabuh guna mengiringi Kangjeng Sultan dan keluarganya, usai Salat Id dari Masjid Sang Ciptarasa Kasepuhan. GAMELAN Sekaten warisan dari Raja Demak II raden Patih Unus tahun 1492 M yang hanya ditabuh setahun sekali guna mengiringi Sultan Kaesepuhan bersama keluarganya seusai Shalat Ied di Masjid Sang Ciptarasa Kota Cirebon.*H UNDANG SUNARYO/MD Instrumen gending gamelan yang melantunkan lagu-lagu buhun, seperti lagu Kodok Ngorek, Sekatenan dan lagu Bango Butak ditabuh mengalun. Sultan Kasepuhan dan keluarga berjalan dari Masjid Sang Ciptarasa menuju keraton sejauh kurang lebih 100 meteran sambil dipirig alunan musik gamelan. Para nayaga yang semuanya adalah seniman keraton memainkan gamelan kunonya sejak sultan melangkahkan kaki seusai Salat Id menuju karaton hingga pukul 12.00 siang. Masyarakat sekitar yang akan dan selesai melaksanakan silaturahmi dan bermusafahah dengan Sultan menyaksikan permainan gending lagu-lagu klasikan yang hanya dua kali dalam setahun ditabuh di panggung Sri Tinggil di bagian depan halaman Keraton Kasepuhan. Alunan suara gamelan yang dipimpin Elang Mande Koswara, mampu memikat hati penonton. Dengan apiknya para nayaga menabuh dan pas dengan ritme dan wilet lagu-lagu buhun, seolah membawa penonton mengingat sejarah masa silam perjuangan para waliyullah dalam mendakwahkan agama Islam di masa silam. Gending yang berdurasi hampir satu jam itu setiap lagu terdengar asing di terima lubang telinga penonton. Soalnya gending lagu tersebut tidak pernah dimainkan oleh para seniman tradisional baik dalam seni pewayangan, sandiwara atau seni tarling lainnya. Namun bagi para keluarga besar Keraton Kasepuhan yang setiap setahun dua kali setia mendengar gending lagu buhun tersebut, sudah bukan hal aneh. Bahkan gending lagu tersebut merupakan lagu wajib yang harus didengar dan dipahami maknanya. Ketika suara azan zuhur terdengar dari pengeras suara masjid Kasepuhan, para nayaga berhenti memainkan gamelan. Seperangkat gamelan yang sejak subuh di angkut ke panggung Sri Tinggil lalu di masukkan lagi ke museum samping keraton. "Bagaimana Anda puas mendengar gending gamelan kuno itu? Mudah-mudahan bisa berkenan di hati Anda, karena gamelan kuno tersebut hanya dua kali dalam setahun dibunyikan. Pada Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Iduladha. Di luar itu disimpan di museum," kata Muhammad Maskun, Lurah Keraton Kasepuhan yang ikut menyaksikan tradisi gamelan sekatenan. Kesembilan alat musik gamelan kuno berlaraskan madenda terbuat dari bahan logam perunggu itu, terdiri dari dua rangkaian bonang sebanyak 14 buah, bedug, kendang, kebluk, gong, dua buah saron dan serangkain jengglong. Karena perawatan cukup apik, semua jenis alat musik tabuh Sekatenan yang berusia lebih dari 500 tahunan itu masih nampak utuh termasuk tempat gamelan yang terbuat dari kayu jati. Dan memiliki suara nyaring dan empuk sehingga tanpa dibantu sound system-pun, dari kejauhan alunan suara gamelan bisa terdengar. Kata Muhammad Maskun seperangkat gamelan kuno yang diberi nama Gamelan Sekaten itu, adalah buah waris dari Raden Patih Unus Raja Islam Demak II yang diwariskan kepada Keraton Kasepuhan Cirebon pada tahun sekira 1429 M. Gamelan tersebut merupakan sarana dawah Islamiyah yang dilakukan semenjak Raden Patah memangku jabatan sebagai raja Islam di Demak pada awal abad XV M. Gamelan Sekaten bisa diwariskan ke Keraton Kasepuhan Cirebon, karena pada saat itu, Raden Patih Unus putra Raden Patah menikahkan anaknya bernama Raden Patih Unus dengan salah seorang putri Syeh Sunan Gunungjati bernama Ny. Mas Ratu Mulung Ayu. Selama lebih 20 tahun berumah tangga, dari hasil pernikahannya Raden Patih Unus, tidak memiliki buah keturunan. Itu sebabnya Raden Patih Unus meninggal dunia, sebagai harta yang diwariskannya almarhun kepada Ny. Mas Ratu Mulung Ayu, salah satunya, berupa seperangkat Gamelan Sekaten yang sengaja diangkut dari Keraton Demak ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Pengiring seni wayang kulit Memang di masa para Sultan Kasepuhan memimpin pemerintahan dan melakukan dawah Islam di masanya, Gamelan Sekaten tersebut sering dipakai untuk mengiringi hiburan seni wayang kulit. Namun setelah tak digunakan seni wayang kulit, hingga sekarang gamelan kuno itu cukup disimpan dan diamankan sebagai bukti sejarah. "Sesuai wasiat sebelum Kangjeng Raden Patih Unus wafat, Gamelan Sekaten harus ditabuh pada saat Hari Raya Idulfitri dan Iduladha saja. Sementara ketika jenis gending lagu buhun yang dulu dipakai sarana dakwah sampai akhir zaman tetap harus dilestarikan oleh para seniman keraton," kata Muhamad Maskun. Agar para seniman keraton menguasai gending lagu-lagu buhun itu, setiap bulan sekali mengadakan latihan di museum. Bahkan bagi para keluarga keraton diwajibkan berlatih Gamelan Sekaten. Untuk mengantisipasi jika ada di antara para nayaga meninggal dunia, sehingga tradisi membunyikan Gamelan Sekaten bisa tetap dilaksanakan. Sebetulnya ketiga gending kuno itu, kata Muhamad Maskun memiliki arti masing-masing. Seperti gending Kodok Ngorek sebagai pengiring ceritera pewayangan yang para tokohnya sedang bertempur melawan kemungkaran dan kemusyrikan. Gending Sekatenan, mengiringi masyarakat masuk Islam dengan membaca dua kalimah syahadat. Dan gending Bango Butak sebagai gending penghibur bagi masyarakat yang telah masuk agama Islam. Di Museum Kasepuhan terdapat seperangkat gemelan degung kuno terbuat dari bahan logam perunggu, berlaraskan pelog. Gamelan tersebut adalah warisan dari Kerajaan Islam Banten. Gamelan kuno ditabuh setahun sekali di panggung Sri Tinggil pada tanggal 1 Muharam. Dan sering dipakai latihan sebagai alat pengiring pertunjukan seni wayang kulit di keraton. Satu perangkat alat musik yang tersimpan di Museum Kasepuhan. Empat buah alat tabuh rebana berdiameter 75 cm, adalah warisan dari Kangjeng Sunan Kalijaga pada tahun 1412 M, sebagai tali persahabatan dengan Kangjeng Sunan Gunungjati Cirebon. Keempat rebana yang terbuat dari kulit sapi dan berbingkai kayu jati berukir itu, masih nampak utuh, padahal usianya sudah mencapai lebih 500 tahunan. Sultan Kasepuhan Pangeran Raja Adipati (PRA) Dr. H. Maulana Pakuningrat, S.H. sesuai musafahah bersama keluarga, para karyawan keraton dan sejumlah masyarakat Cirebon, merasa bangga alunan Gending Sekatenan masih dicintai masyarakat sekitar. Bahkan banyak masyarakat luar yang bersalat Id di Masjid Sang Ciptarasa karena sengaja ingin mendengar bunyi Gending Sekatenan sebagai warisan dari Raden Patah. "Selaku sultan yang bertugas memimpin keraton warisan raja Islam terdahulu, kami merasa bangga bahwa keberadaan keraton masih dicintai masyarakat termasuk turis mancanegara. Termasuk pada saat 1 Syawal di mana hampir semua orang merayakan hari kemenangan bersama keluarganya, banyak yang sengaja datang ke sini hanya sekadar ingin mendengarkan gending lagu buhun," kata PRA Maulana Pakuningrat, yang didampingi putra mahkotanya Raden Arief Natadiningrat. Sultan mengaku sejumlah barang pusaka peninggalan para Sultan Kasepuhan masih terawat di keraton. Para petugas keraton dengan penuh kesetiaan merawat semua benda-benda kuno agar jangan sampai punah tertelan zaman. Termasuk salah satunya Gamelan Sekaten yang hanya ditabuh setahun dua kali. (H. Undang Sunaryo/MD)

                                                                  

KUBU HANGABEHI GELAR UPACARA MINTA RESTU RATU KIDUL TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Satu dari dua raja kembar Kraton Solo, menggelar upacara labuhan untuk minta restu ke penguasa laut selatan. Kubu GKPH Hangabehi, Selasa (8/2) melakukan upacara ritual di pantai Pandansimo Yogyakarta. Mereka melarung sesaji dan ageman (pakaian) untuk penguasa laut Selatan. "Kemarin kami sangat sibuk sehingga belum bisa menggelar upacara ini. Selain itu, kami perlu mencari hari baik untuk meminta restu kepada Gusti Kanjeng Ratu Kencono Sari. Upacara ini adalah untuk meminta restu atas jumenenengan noto (pengesahan) Gusti Hangabehi sebagai Raja di Kraton Surakarta," kata Bupati Istri Kraton Surakarta, Raden Tumenggung Copuro yang juga adik ipar Hangabehi. Rombongan dari Kraton Solo itu dipimpin adik kandung Hangabehi, GKAy Kus Sapartiyah. Hadir dalam upacara larungan itu, adik kandung Hangabehi lainnya, GKAy Galuh Kencono dan puteri Hangabehi, GRAy Rumai Damayanti. Selain itu, para petinggi dan abdi Hangabehi juga hadir dalam upacara tersebut. Menurut Copuro, selain menggelar labuhan di Pandansimo, upacara serupa juga digelar di Gunung Merapi, Gunung Lawu, gua Wedusan (di Sukoharjo) dan di Dlepih (Wonogiri). "Ada lima tempat yang dijadikan upacara. Dan intinya, minta doa restu agar Hangabehi mendapat keselamatan memimpin Kraton Surakarta," kata Copuro. Dalam upacara labuhan itu, rombongan kubu Hangabehi datang ke Yogyakarta mengendarai 10 mobil pribadi pukul 11.30 WIB. Mereka sudah membawa sesaji lengkap termasuk ageman (pakaian) untuk Ratu Kidul yang dimasukkan ke dalam kotak. Sebelum dilarung, mereka menggelar doa di pendopo Cepuri yang ada di bibir pantai laut Selatan. Setelah itu, pukul 12.30 wib, mereka berjalan kaki menuju pantai Pandansimo. Perlengkapan sesaji kemudian dilarung ke laut. Lantaran besarnya gelombang, tidak ada abdi dalem yang berani membawa sesaji itu ke tengah laut. Mereka meminta bantuan kepada petugas SAR untuk melarung. Seperti diberitakan, konflik di Kraton Surakarta Hadiningrat hingga saat ini belum juga selesai. Kubu Hangabehi dan kubu GKPH Tedjowoelan, saling mengklaim bahwa mereka adalah penguasa sah yang menjabat sebagai Pakoe Boewono XIII. Untuk meredakan konflik internal itu, sejumlah mantan pejabat tinggi negara berusaha mempertemukan keduanya. Namun upaya itu gagal sehingga konflik masih terus berlanjut. (Syaiful Amin)

                                                                         
UPACARA SEKATEN Di Yogyakarta, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 bulan maulud (bulan ketiga dari tahun Jawa) diperingati dengan upacara Grebeg Maulud. Namun sebelum memperingatai hari besar tersebut, ada semacam upacara pendahuluan yang biasa dilakukan. Upacara yang diselenggarakan pada tanggal 5 hingga 12 Maulud inilah yang dinamakan Upacara Sekaten. Sekaten yang berasal dari kata ‘syahadatain’ ini pada awalnya merupakan ajang untuk mengumpulkan masyarakat sebagai upaya menyebarkan agama Islam. Di awal masa permulaan perkembangan agama Islam di Jawa, Sunan Kalijogo (salah seorang dari Wali Songo) mempergunakan instrumen musik jawa Gamelan, sebagai salah satu sarana untuk menarik perhatian masyarakat, agar mau datang untik menghadiri dan menikmati pagelaran karawitannya. Pagelaran karawitan ini mempergunakan dua perangkat gamelan yang memiliki laras suara sangat merdu, yaitu Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Selain memainkan alat gamelannya, saat pagelaran Sunan Kali Jogo juga melakukan khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Dan selama khotbahnya, Sunan Kali Jogo memberikan kesempatan bagi masyarakat yang berkeinginan untuk memeluk agama Islam. Mereka diwajibkan memengucapkan kalimat “Syahadat” yang sebagai pernyataan taat kepada ajaran agama Islam. Istilah “Syahadat” ini kemudian dikenal masyarakat Jawa dengan istilah “Syahadatain”, yang berangsur-angsur berubah menjadi “Syakatain” dalam pengucapannya. Dan saat ini lebih dikenal dengan istilah “Sekaten”. Hingga saat ini, kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu, selalu disimpan di tempat yang diberi nama bangsal Sri Menganti. Dan hanya dikeluarkan pada tanggal 5 bulan Maulud, ke bangsal Ponciniti yang terletak di Kemandungan Utara (keben) dan mulai dibunyikan di tempat ini pada sore harinya. Pada hari yang sama, sekitar pukul 23:00 hingga 24:00, kedua perangkat gamelan ini dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta, dan dalam suatu iring-iringan abdi dalem jajar. Selama perjalanan, kedua perangkat gamelan yang sangat bersejarah ini, selalu dikawal oleh pengawal atau prajurit keraton yang berseragam lengkap. Masyarakat Yogyakarta banyak yang mempercayai bahwa dengan ikut berpartisipasi merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, mereka akan mendapat berkah dan dikaruniai awet muda. Selain berkah awet muda, para petani menggunakan momen ini untuk memohon agar panenannya yang akan datang dapat melimpah. Untuk memperkuat tekadnya, mereka membeli pecut (cambuk) yang akan dibawanya pulang. Untuk mendapatkan berkah tersebut, ada syarat yang harus mereka lakukan, atau dalam bahasa jawa disebut “Srono”. Mereka percaya bahwa mereka juga harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama di saat hari pertama perayaan. Itulah mengapa pada saat diselenggarakannya upacara Sekaten ini, banyak didapati para penjual sirih dengan segala ramuannya di sekitar Masjid Agung. Tak hanya penjual sirih, ada pula yang menjual nasi gurih beserta aneka lauk pauknya di halaman kemandungan, di Alun-alun Utara, dan di depan Masjid Agung. Bahkan, sebelum Upacara Sekaten ini diselenggarakan, setiap tahunnya Pemda D.I.Y memeriahkan acara dengan mengadakan pasar malam bertempat di Alun-alun Utara Yogyakarta selama kurang lebih satu bulan. Pasar malam inilah yang sekarang kita kenal dengan Sekaten.(yds) (foto: www.tasteofjogja.coM

STOP!!!!!!!!!!
INI ADALAH KESESATAN JANGAN DI IKUTI KARENA TIDAK ADA CONTOH DARI NABI MOHAMMAD, INGAT BAHWA SUATU YANG BATIL ITU TIDAK BISA DICAMPUR DENGAN YANG HAK.




PENGERTIAN PRILAKU


 Pengertian Perilaku
Berdasarkan ensiklopedia Amerika; perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya.Hal ini berarti bahwa perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Bimo 201).
Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas daripada manusia itu sendiri.
Pandangan behavioristik menyatakan bahwa perilaku sebagai respon terhadap stimulus, akan sangat ditentukan oleh keadaan stimulusnya dan individu atau organisme seakan-akan tidak mempunyai kemampuan untuk menentukan perilakunya.
Pandangan kognitif mengenai perilaku yaitu bahwa perilaku individu merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri invidu itu ada kemampuan untuk menentukan perilaku yang diambilnya.
Bentuk perilaku manusia terdiri dari perilaku yang tidak tampak / terselubung (convert behavior) dan perilaku yang tampak (convert behavior) perilaku yang tidak tampak dapat berupa berfikir tanggapan sikap persepsi emosi pengetahuan dan lain-lainnya.Sedangkan perilaku yang tampak misalnya berjalan berbicara bereaksi berpakaian dan lain-lainnya.
Perilaku dan gejala yang tampak pada kegiatan organisasi tersebut di pengaruhi baik faktor intern maupun ekstern termasuk faktor intern adalah pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan lain-lainnya.
Yang berfungsi untuk mengelola dan ektern ini merupakan penuntut dari perilaku mahluk hidup termasuk perilaku manusia. Faktor intern adalah merupakan konsepsi dasar atau modal untuk perkembangan perilaku makhluk hidup. Sedangkan faktor ekstern / lingkungan adalah merupakan kondisi atau merupakan lahan untuk perkembangan perilaku tersebut.
Jenis perilaku .Skinner ( 1976) membedakan perilaku menjadi
  1. perilaku yang alami (innate behavior)
  2. perilaku operan (operant behavior)
Perilaku alami perilaku yang dibawa sejak organisme dilahirkan yaitu berupa reflek-reflek dan insting-insting.
Perilaku operan : perilaku yang dibentuk melalui proses belajar.
Perilaku yang refleksi merupakan perilaku yang terjadi sebagai reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme yang bersangkutan misal reaksi kedip mata bila mata terkena sinar yang kuat, gerak lutut bila lutut kena palu, menarik jari bila jari terkena api.
Reaksi atau perilaku ini terjadi secara dengan sendirinya, secara otomatis tidak diperintah oleh otak (susunan saraf).Stimulus yang diterima oleh organisme atau individu itu tidak sampai ke otak, sebagai pusat susunan saraf, sebagai pusat pengendalian perilaku dalam perilaku yang refleksi respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh respon, langsung timbul respons melalui faktor tanpa melalui pusat kesadaran atau otak.
Pada perilaku yang non reflektif operan lain keadaannya perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Dalam kaitan ini stimulus setelah di terima oleh reseptor.Kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat susunan saraf sebagai pusat kesadaran kemudian baru terjadi respon melalui efektor. Proses yang terjadi dalam otak atau pusat kesadaran ini disebut proses psikologis. Perilaku atau aktifitas atas dasar proses psikologis ini yaitu disebut perilaku atau aktivitas psikologis. Pada manusianya perilaku psikologi ialah yang dominan sebagai terbesar perilaku manusianya merupakan perilaku yang dibentuk. Perilaku yang di pelajari dari proses belajar. Perilaku yang reflektisif merupakan perilaku yang pada dasarnya tidak dapat dikendalikan. Hal tersebut karena perilaku refleksif adalah perilaku yang alami. Bukan perilaku yang dibentuk dipelajari dan dapat dikendalikan karena itu dapat berubah melalui proses belajar disamping perilaku manusia dapat di kendalikan perilaku juga merupakan perilaku yang integrated yang berarti bahwa keseluruhan individu atau organisme itu terlibat dalam perilaku yang bersangkutan bukan bagian demi bagian. Begitu kompleksnya perilaku manusia itu maka psikologi ingin memahami manusia tersebut.
Oleh karena itu untuk memahaminya dan membentuk perilaku yang sesuai diharapkan adalah sebagai berikut.
  1. Pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan yaitu dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan misal dibiasakan bangun pagi atau menggosok gigi sebelum tidur, membiasakan solat duha setiap hari, membiasakan diri untuk solat lima waktu di masjid (bagi kaum adam). Cara ini didasarkan oleh nabi Muhammad SAW dalam kitab ahlak mulia rosululah.
  2. Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight) disamping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian atau insight. Misal : datang kuliah tidak terlambat karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain, kalau berjalan di jalan raya sebelah kiri, kalau kita berjalan disebelah kanan bisa terserempet kendaraan. Cara ini berdasarkan teori kognitif yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thoendike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan maka dalam eksperimen Kohler adalah dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. Kohler adalahan salah seorang tokoh dalam psikologi gestalt dan ditemukan dalam aliran kognitif.
  3. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakn model atau contoh kalau orang berbicara bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya. Hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunaan model, cara ini didasarkan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura (1997)

A. Pengantar
Ditinjau dari segi bahasa kata psikologi berasal dari bahsa Yunani yaitu diartikan jiwa dan kata logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan oleh karena itu perkataan psikologi sering di artikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengethuan tentang jiwa atau di kenal dengan ilmu jiwa.
Namun demikian ada sementara ahli yang kurang sependapat bahwa pengertian psikologi itu benar-benar sama dengan ilmu jiwa, walaupun ditinjau dari arti kata kedua istilah itu sama. Sebagaimana kemukakan Gerungan sebagai berikut:
Arti kata kedua istilah tersebut menurut isinya sebenarnya sama, sebab kata psikologi itu mengandung kata psyche, yang dalam bahasa Yunani djiwa dan kata logis yang diterjemahkan belaka daripada istilah psychology. Namun kami gunakan kedua istilah dengan berganti dengan kesadaran adanya perbedaan yang jelas dalam artinya sebagai berikut:
  1. Ilmu jiwa itu merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang dikenal tiap orang. Sehingga kamipun menggunakannya dalam arti yang luas dan telah lazim dipahami orang. Sedangkan kata psychology itu merupakan suatu istilah “ ilmu pengetahuan “ istilah “schientific” sehingga kami prgunakannya untuk menunjukkan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu.
  2. Ilmu jiwa kami pergunakan dalam arti yang lebih luas daripada istilah pscyhologi meliputi ilmu segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan tetapi juga segala spekulasi mengenai jiwa itu. Psychologi meliputi ilmu pengethuan mengenai jiwa yang diperoleh secara sistematis dengan metode-metode ilmiah yang memenuhi syarat-syarat istilah ilmu jiwa menunjukkan kepada ilmu jiwa pada umumnya. Sedangkan istilah psychology menunjukkan ilmu jiwa yang ilmiah menurut norma-norma ilmiah modern.
Dengan demikian kiranya sudah jelas, bahwa apa saja yang kami sebut ilmu jiwa itu belum tentulah “Pscychologi” akan tetapi psychology itu sendiri senantiasa juga ilmu jiwa (Gerungan, 1966: 6)
Psychologi sebagai suatu ilmu, maka psychologi merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan – pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah itu sendiri adalah penelitian yang di lakukan atau dijalankan secara sitematis, terkontrol, terarah dan dalam psykologi berdasarkan atas data yang empiris. Oleh karena itu salah satu ciri psychology sebagai ilmu berdasarkan atas dasar data yang empiris, diasamping itu data juga harus sistematis. Suatu ilmu yang dapat diuji (di tes) kebenaranya.
Psychologi sebagai suatu ilmu juga mempunyai tugas-tugas atau fungsi fungsi tertentu seperti ilmu pada umumnya, adapun tugas pokok daripada psychology sebagai berikut:
  1. Mengadakan deskripsi: yaitu tugas untuk menggambarkan secara jelas hal-hal yang dipersoalkan / dibicarakan.
  2. Menerangkan, tugas untuk menerangkan kedaan atau kondisi-kondisi yang mendasarinya terjadinya peristiwa-peristiwa.
  1. Menyusun teori, tugas mencari dan merumuskan hukum-hukum atau ketentuan-ketentuan mengenai hubungan antara peristiwa satu dengan peritiwa lain / kondisi satu dengan kondisi lainnya.
  2. Prediksi, tugas membuat ramalan (prediksi)
  3. Pengendalian, tugas untuk mengendalikan atau mengatur peritiwa-peritiwa.
Demikianlah tugas- tugas dari ilmu psikologi pada umumnya.seperti telah dipaparkan psikologi merupakan suatu ilmu, maka psychologi juga merupakan ciri-ciri atau sifat-sifat seperti ilmu yang lain.
a. Objek tertentu
b. Metode pendekatan / penelitian tertentu
c. Sistematika yang diatur sebagai hasil pendekatan terhadap objeknya.
d. Mempunyai riwayat atau sejarah tertentu.

B. PENGERTIAN / DEFINISI PSIKOLOGI
Psykologi adalah ilmu pengetahuan tentang tingkah laku dan kehidupan psikis (jiwani) manusia. Adapun beberapa definisi tentang psikologi menurut para tokoh
  1. Psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang aktivitas manusia (behaviorisme radikal)
  2. Psychologi sebagai psichologi filsafat menurut plato pada tahun lebih kurang 400 SM, berarti : ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat hakekat dan hidup jiwa manusia (Psyche = jiwa = logos = ilmu pengetahuan)
  3. Psikologi menurut aliran ilmu pengetahuan alam / empiris dan rasionalisme abad XVII ialah: ilmu pengetahuan yang mempelajari kesadaran atau gejala – gejala kesadaran.
  4. Psikologi menurut aliran psikologi dalam (freudianisme) ialah ilmu yang mempelajari baik gejala-gejala kesadaran maupun gejala-gejala ketidak sadaran serta gejala-gejala dibawah sadar.
  5. Psikologi adalah : ilmu pengetahuan yang mempelajari semua tingkah laku dan perbuatan individu dimana tersebut tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. (Robert.S. Wood-Worth)
  6. Menurut Mac Dougal pada awal abad ke 20 ialah: ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia atau human behavior. Karena itu psikologi digolongkan dalam aliran behaviourisme. Diwakili oleh tokoh-tokoh Mac Dougal Mordike dan Watson dari Amerika Serikat dan A. Pavior serta Van Bechterew dari Rusia.


Kartini Kartono. DR. Psikologi Umum. Mandar Maju – Bandung 1990

Prof. Dr. Bimo Walgito, 1997. Pengantar Psilogi Umum. ANDI: Yogyakarta.

Asmar Yeti Zein, Eko Suryani.

ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM


ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM

Secara bahasa pengetian ilmu adalah lawan kata boleh/jahl. Sedangkan secara istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkap secara sempurna segala hakikat yang dibutuhkannya. Para ulama banyak memberikan definisi tentang ilmu, diantaranya :
  1. Imam Raghib Al-Ashfahani berkata dalam kitabnya Al-Mufradat Fi Ghoribil Qur’an, “Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Ia terbagi menjadi dua; pertama, mengetahui inti sesuatu itu dan kedua adalah menghukumi adanya sesuatu pada sesuatu yang ada, atau menafikan sesuatu yang tidak ada”.1
  2. Imam Muhammad bin Abdur Rauf Al-Munawi berkata, “Ilmu adalah keyakinan yang kuat yang tetap dan sesuai dengan realita”. Atau, ilmu adalah tercapainya bentuk sesuatu dalam akal.
Adapun menurut syari’at yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW dan diamalkan, baik berupa amalan hati, amalan lisan, maupun amalan anggota badan.2
Dalam pengertian syari'at, ilmu yang benar adalah yang diperoleh berdasarkan sumber yang benar (yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW yang disebut juga ayat-ayat syar'iyah; dan penelitian terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesata yang disebut juga ayat-ayat kauniah), melahirkan rasa ketundukan kepada Allah, dan diamalkan. Sebagaimana firman Allah:



Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (Q.S. Fathir : 28)


Shahabat Ali bin Abi Tholib berkata : “Sesungguhnya yang disebut orang alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya dan ilmunya sesuai dengan amalnya.”3 SedangkanAbdullah bin Mas’ud mengatakan, Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya perkataan, namun ilmu adalah banyaknya rasa takut kepada Allah".
Seluruh shahabat Nabi SAW telah bersepakat bahwa orang-orang yang mempunyai ilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, maka sejatinya ia adalah orang bodoh.4 Orang yang mengetahui perbuatan zina itu haram, namun tetap berbuat zina, adalah orang yang bodoh dan tidak berilmu, sekali pun ia adalah seorang doktor, profesor, ustadz, kiai, atau ulama panutan. Sebagaimana doa nabi Yusuf agar diselamatkan dari godaan istri penguasa Mesir yang mengajaknya berzina:



Yusuf berkata: "Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf [12]: 33)

Demikian pula orang yang mengetahui bahwa shalat itu wajib, namun ia tidak mau menunaikan shalat, maka sejatinya ia adalah orang yang bodoh, walaupun bergelar doktor atau kiai. Kesimpulannya, orang yang mengetahui ilmu tentang kebenaran, namun tidak mau mengamalkannya, adalah orang-orang bodoh dalam pandangan syari'at.
(QS. Al-Baqarah [2] :67, Hud [11] : 46

Disyari'atkannya Thalabul Ilmi
Banyak ayat Al-Qur'an maupun hadits-hadits Nabi yang memerintahkan agar kita menuntut ilmu, di antaranya:

  1. Firman Allah SWT:



Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk member! peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah [9]: 122)
  1. Firman Allah:


"Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan" (QS. Al-Alaq [96]: 1)
  1. Sabda Nabi SAW :
"Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim" 5
Klasifikasi Ilmu
Di kalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang klasifikasi ilmu. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash, bahwasanya Nabi SAW bersabda:



"(Pokok) ilmu itu adalah tiga, sedang selebihnya adalah pelengkap (keutamaan). Yaitu: ay at (Al-Qur'an) yang muhkamah (tetap sampai kiamat), sunnah yang ditegakkan dan pembagian harta warisan yang adil':6
Ibnul Qayyim membagi ilmu dalam dua macam, yaitu :
  1. Ilmu yang memberikan kesempurnaan diri, yaitu ilmu tentang Allah, asma dan sifat-Nya, kitab-kitab, perintah dan larangan-Nya.
  2. Ilmu yang tidak memberikan kesempurnaan diri, yaitu setiap ilmu yang tidak menimbulkan mudharat jika seseorang tidak mengetahuinya dan juga tidak memberikan manfaat.
Diantara ulama ada yang membagi ilmu pada dua persoalan pokok, yaitu ilmu yang terpuji dan ilmu yang tercela. Yang termasuk ilmu yang terpuji adalah:
  1. Ilmu Ushul (dasar), yaitu kitabullah, sunnah Rasulullah SAW, Ijma umat dan Perkataan para Shahabat.
  2. Ilmu Furu' (cabang) yaitu apa yang dipahami dari dasar-dasar ini, berupa berbagai pengertian yang memberikan sinyal kepada akal, sehingga akal dapat memahaminya.
  3. Ilmu Pengantar, yaitu ilmu yang berfungsi sebagai alat, seperti ilmu nahwu, sharaf, ilmu balaghah yang fungsinya untuk memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
  4. Ilmu Pelengkap, seperti ilmu qira'ah, makhraj huruf, ilmu rujalul hadits, dan lain-lain.
Sedang yang termasuk ilmu yang tercela adalah:
    1. Ilmu yang memudharatkan dan tidak bermanfaat, seperti ilmu sihir dan ilmu nujum (ramalan nasib berdasarkan perbintangan).
    2. Ilmu materialisme yang bertentangan dengan ilmu kenabian, yang kesemuanya ditujukan untuk kesombongan dan pamer kekuatan.
    3. Ilmu dunia yang melalaikan akhirat.
    4. Ilmu yang tidak diamalkan dan disembunyikan oleh pemiliknya.
    5. Ilmu yang menimbulkan perselisihan dan kedengkian. dan lain-lain.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah haditsnya:
"Adapun untuk urusan dunia kalian, maka kalian lebih mengetahui, sedangkan untuk urusan dien ini, maka kembalikanlah kepadakul".7
Dari hadits tersebut, maka klasifikasi ilmu dapat digolongkan dalam dua macam yaitu:
  1. Ilmu Dien yang terbagi menjadi dua bagian:
    • Yang hukumnya Fardhu Ain, seperti: Ilmu tentang pemahaman akidah dan ibadah yang benar seperti rukun iman dan rukun Islam.
    • Yang hukumnya Fardhu Kifayah, seperti; ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu farai'dh, ilmu bahasa dan lain-lain.
  2. Ilmu Duniawi, yaitu segala macam ilmu yang dengan ilmu tersebut tegaklah segala mashlahat dunia dan kehidupan manusia, seperti ilmu kedokteran, ilmu hisab, perdagangan, perang dan lain-lain. Secara umum ilmu duniawi ini hukumnya fardhu kifayah.

Keutamaan Ilmu (Pemmtut Ilmu dan Ulama)
Al-Qur'an dan As-Sunnah banyak menyebutkan keutamaan ilmu dan pemiliknya, di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Firman Allah:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
  1. Sabda Nabi SAW:
    • "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan jalan baginya menuju surga"8
    • "Jika anak Adam meninggal dunia, maka putuslah semua amalnya kecuali tigaperkara; shadaqah jariyah (yang terns mengalir), ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya"9
    • "Barangsiapa yang datang ke masjidku ini hanya untuk suatu kebaikan yang ia pelajari atau ia ajarkannya (kepada orang lain), maka ia akan sederajat dengan para mujahidinfie sabilillah"10

Di antara atsar yang menyebutkan keutamaan ilmu adalah sebagai berikut :
  1. Duma mi terlaknat dan terlaknat pula penghuninya kecuali orang yang mempelajari kebaikan atau mengajarkannya. (Ka'ab Al-Ahbar)
  2. Kebaikan adalah bagi orang yang berilmu dan orang yang belajar, sedang yang berada di antara keduanya (tidak belajar dan tidak mengajar), maka ia adalah orang hina yang tidak mempunyai kebaikan. (Khalid bin Ma'dan)
  3. Belajarlah kamu sekalian sebelum ilmu itu dicabut! Sesungguhnya ilmu itu akan dicabut bersamaan dengan dicabutnya para ulama, dan orang yang berilmu dan yang mempelajarinya memiliki pahala yang sama. (Abu Darda)
  4. Barangsiapa yang meninggal dunia dalam keadaan menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dengan para nabi adalah sama, satu derajat di surga (Al-Hasan Al-Bashri)
  5. Ibnu Mas'ud berkata: Orang yang (mukmin yang) berilmu mempunyai derajat sebanyak 700 derajat di atas derajat orang mukmin. Jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya sejauh perjalanan 500 tahun."
  6. Al-Allamah Ibnul Qayyim menerangkan kelebihan ilmu atas harta:
    • Ilmu adalah warisan nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang kaya.
    • Ilmu menjaga pemiliknya sedangkan harta hams dijaga oleh pemiliknya.
    • Ilmu mengendalikan harta sedangkan harta dikendalikan oleh ilmu, dengan demikian ilmu memerintah sedang harta diperintah.
    • Ilmu selalu bertambah jika didermakan dan diajarkan kepada orang lain, sedangkan harta akan hilang percuma jika dibelanjakan, kecuali shadaqah.


Ayat, hadist dan atsar di atas menunjukkan keutamaan ilmu sebagai berikut :
      1. Ilmu akan mengangkat derajat seseorang mukmin di atas tingkat hamba lainnya (QS. Al-Mujadalah [58] : 11)
      2. Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga
      3. Para malaikat akan membentangkan sayap rahmatnya kepada para penuntut ilmu.
      4. Seluruh makhluk akan memintakan ampun bagi para penuntut ilmu.
      5. Orang yang menuntut ilmu berada di jalan Allah (fie sabilillah).
      6. Orang yang mengajarkan ilmu akan mendapatkan balasan pahala seperti pahala orang yang mengamalkan ilmu tersebut.

Fungsi dan Peran Ilmu
  1. Ilmu merupakan sarana dan alat untuk mengenal Allah. (QS. Muhammad [48]: 19).
  2. Ilmu akan menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.
  3. Ilmu merupakan syarat utama diterimanya seluruh amalan seorang hamba, maka orang yang beramal tanpa ilmu akan tertolak seluruh amalannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW: "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak adaperintah (ilmu)nya dari kami, maka amalan tersebut tertolak".11
Imam Nashiruddin Ahmad bin Munir Al-Iskandari berkata: Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu. Maka, ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu adalah pembenar niat, sedangkan amal tidak akan diterima kecuali dengan niat yang benar.12

Sarana Mencari Ilmu
Ada tiga sarana pokok dalam mencari ilmu sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu:
  1. As-Sam'u (pendengaran), merupakan asas ilmu dan digunakan baik pada masa penurunan wahyu, penyampaiannya kepada para shahabat maupun kepada kita sekarang.
  2. Al-Bashar (penglihatan), adalah asas ilmu yang sangat dibutuhkan untuk mengamati sesuatu dan mencobanya.
  3. Al-Fuad (hati), adalah asas 'aqli (akal) yang hams dimiliki oleh setiap penuntut ilmu.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl [16]: 78)

Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui ilmu apapun. Ilmu yang diperolehnya hanya dengan belajar dan belajar menggunakan sarana yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Karunia ini berupa pendengaran, penglihatan dan hati yang berfungsi sebagai jendela untuk melihat, mendengar dan merasakan alam sekitarnya. Maka, barangsiapa yang telah kehilangan ketiga sarana ini atau kehilangan mata dan pendengarannya, maka mereka tidak terkena beban untuk menuntut ilmu, termasuk juga beban-beban syari'at lainnya.
Al-Qur'an juga memberi nasihat dan menerangkan tentang pertanggung-jawaban ketiga komponen ini jika ketiganya tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Allah berfirman:



Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. QS. Al-Isra’ [17] : (16).


1 Al-Mufradat Fi Ghoribil Qur’an: 580
2 Majmu’ Fatwa : 10/664
3 At-Ribyan Fi Abdi Hamalatil Qur’an, An-Nawawi: 17
4 Madarijus Salikin, 1/377
5 HR. Ibnu Jama’ah, Ibnu Majah, Ath-Thabrani, Al-Khatib dan lain-lain. Shahih Jami’ush Shaghir :
5264
6 Sunan Abu Daud Juz VIII/473.
7 Ibnu Majah : II/825
8 HR. Muslim
9 HR. Muslim dari Abu Hurairah
10 HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dengan sanad La ba’sa bihi
11 HR. Muslim dari ‘Aisyah nin Abu Bakar
12 Fathl Bari Syarah Shahih Bukhori 1/94

KEDUDUKAN SUNAH DALAM AL QUR AN


. KEDUDUKAN AS-SUNNAH SEBAGAI HUJJAH (DALIL-PENY) DALAM SYARI'AT ISLAM

Sunnah nabawiyah (hadits nabawiyah-peny) adalah sumber hukum yang kedua dari sumber-sumber hukum agama, dan kedudukannya berada setelah Al-Qur'an, dan wajib diikuti sebagaimana wajibnya mengikuti Al-Qur'an.

Mengapa demikian? Berikut alasan-alasan (dalil) yang menunjukkan bahwa As-Sunnah adalah sumber hukum dalam agama:
  1. Al-Qur'an memuat banyak ayat yang menunjukkan adanya perintah Allah untuk mengikuti dan mentaati Rasul-nya. Misal firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: "Dan apa yang telah Rasul berikan kepada kalian maka ambillah dan apa yang telah Rasul larang bagi kalian maka tinggalkanlah.". Dalam ayat lain: "Wahai orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul." (An-Nisa':59)

  1. Allah telah memperingatkan kita untuk tidak menyelisihi perkatan beliau saw. (QS An-Nur:63)

  1. Mengikuti dan mentaati Rasul merupakan salah satu dari dasr-dasar keimanan.(QS. An-Nisa':65)

  1. Taat kepada Rasul merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Allah berfirman:"Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh dia telah taat kepada Allah."(QS. An-Nisa:80)

  1. Perbuatan para sahabat ra menunjukkan bahwa mereka mentaati semua perintah Rasulullah saw dan mereka tidak membeda-bedakan antara hukum yang diwahyukan dalam Al-Qur'an dan hukum yang bersumber dari Rasulullah saw.
D. FUNGSI AS-SUNNAH TERHADAP AL-QUR'AN
  1. Untuk menguatkan apa yang ada pada Al-Qur'an.

  1. Sebagai penjelasan dan perinci. Mencakup tiga hal: merinci, mengkhususkan, dan membatasi. Contoh Nabi saw menjelaskan perihal shalat secara rinci terkait gerakan dan bacaan dalam shalat, yang hal ini tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an diterangkan bahwa setiap kerabat memilki hak waris, As-Sunnah kemudian mengkhususkan bahwa tidak semua anak/istri/orang tua dapat waris, ada yang tidak misal: anak yang membunuh orangtua atau istri bunuh suami tidak mendapat warisan dari orangtua atau suami yang dibunuh itu. Ketika orang meninggal Al-Qur'an mengharuskan meninggalkan wasiat yang baik, ini masih mutlak tidak terbatas, kemudian Rasulullah saw membatasi bahwa berwasiat tidak boleh lebih dari sepertiga harta milik.

  1. Membawa hukum baru yang tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Contoh dalam masalah pernikahan Al-Qur'an mengharamkan menikahi dua bersaudara dalam pernikahan dalam satu waktu. Rasulullah saw menambahkan bahwa dilarang menikahi keponakan dan bibi dalam pernikahan dalam satu waktu.
E. POSISI AS-SUNNAH DALAM DALIL-DALIL SYARI'ATKedudukan As-Sunnah dalam dalil-dalil syariat berada di bawah kedudukan Al-Qur'an. Alasannya adalah sebagai berikut:

  1. Al-Qur'an adalah qath'i (tegas,pasti-peny) karena mutawatir (diriwayatkan dan dihafalkan oleh orang dengan jumlah sangat banyak yang dengan jumlah itu tidak mungkin akan terjadi kebohongan dan keraguan atasnya disamping itu adanya jaminan penjagaan dari Allah, juga penjagaan yang ketat mulai dari zaman Nabi saw hingga saat ini, sehingga keberadaannya dan kebenarannya harus diterima dan diakui-peny) sedangkan As-Sunnah adalah zhanni (belum pasti) karena tidak semua hadits memilki kualitas dan standar yang sama di mata para ahli hadits, misal ada yang shahih ada yang dha'if (palsu, lemah), adanya perawi yang tidak dipercaya dst.

  1. Sebagaimana telah disinggung di bagian sebelumnya, As-Sunnah adalah penjelas terhadap Al-Qur'an atau sebagai penambah baginya. Jika sebagai penjelas, maka keberadaannya adalah setelah Al-Qur'an. Jika bukan sebagai penjelasan terhadap Al-Qur'an, maka ia tidak bisa dijadikan landasan kecuali setelah hukum tersebut tidak ditemukan dalam Al-Qur'an. Dan ini menjadi dalil didahulukannya Al-Qur'an atas As-Sunnah.

  1. Adanya perbuatan dan perkataan sabahat yang menunjukkan hal itu. Seperti hadits Mu'adz ketika Rasulullah saw bersabda,
  2. Dengan apa kamu berhukum?" Mu'adz menjawab, "Dengan kitabullah." Nabi bertanya kepadanya, "Jika kamu tidak menemukan (dalam Al-Qur'an)" Dia menjawab, "Dengan sunnah Rasulullah saw." Beliau bersabda, "Jika kamu tidak menemukannya?" Dia menjawab, "Aku berijtihad dengan pendapatku."

    ==========================================
    KESIMPULAN DAN PENUTUP

    As-Sunah (hadits) menempati kedudukan kedua dalam dalil-dalil syari'at. Penerimaan As-Sunnah sebagai dalil dalam hukum syar'i ditegaskan baik oleh Al-Qur'an, hadits itu sendiri maupun contoh perbuatan para sahabat.
    Penolakan terhadap keyakinan ini akan berdampak pada dualisme. Di satu sisi ia mengakui bahwa Al-Qur'an benar adanya tetapi di sisi lain ia tidak mau beriman kepada seluruh isi Al-Qur'an. Bagaimana mungkin orang yang tidak mau menanati Rasul dikatakan beriman pada seluruh Al-Qur'an; padahal hal yang demikian justru diperintahkan oleh Al-Qur'an??
    Oleh karena itu mari kita simak peringatan Allah kepada bangsa Yahudi yang pilih kasih terhadap ayat-ayat Taurat,
    "Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian yang lainnya? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang berat." (QS. Al-Baqarah: 85)

    ==========================================
    Referensi:
    1. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur'an oelh Syaikh Manna' Al-Qaththan
    2. Pengantar Studi Ilmu Hadits oleh Syaikh Manna Al-Qaththan
    3. Sejarah dan Pengantar ilmu Hadits oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy
    4. Catatan Kuliah Tarbiyah Islamiyah (Amin Ilyas)
    ==========================================